Sumber: motorkux.id
Mengendarai motor adalah aktivitas yang membutuhkan keseimbangan antara kemampuan teknis dan intuisi. Banyak pengendara yang merasa telah berpengalaman sehingga lebih mengandalkan feeling atau perasaan saat berkendara. Di sisi lain, ada juga yang lebih mengutamakan logika, aturan, dan teknik yang benar agar tetap aman di jalan.
Tidak peduli motor apa yang digunakan, baik motor harian hingga motor bergaya seperti Honda Stylo 160 harga jutaan, perbedaan antara mengendarai dengan feeling dan logika sangat mempengaruhi keselamatan dan kenyamanan. Lalu, apa sebenarnya perbedaan keduanya?
1. Feeling Mengandalkan Kebiasaan, Logika Mengandalkan Pengetahuan
Feeling dalam berkendara biasanya terbentuk dari pengalaman. Pengendara yang mengandalkan feeling cenderung mengandalkan ingatan tubuh (muscle memory), intuisi, dan kebiasaan lama. Mereka merasa tahu kapan harus menambah kecepatan, kapan harus mengerem, atau kapan harus menyalip hanya berdasarkan situasi yang “terasa” familiar.
Sementara itu, logika berangkat dari pengetahuan: memahami aturan lalu lintas, teknik pengereman yang benar, titik blind spot, hingga jarak aman. Pengendara yang mengandalkan logika akan mempertimbangkan risiko sebelum bertindak, bukan hanya mengikuti perasaan.
Contohnya, feeling berkata bahwa jarak 1 meter cukup untuk menyalip, tapi logika akan menghitung bahwa jarak itu tidak aman karena bisa mengganggu keseimbangan atau menimbulkan risiko tabrakan.
2. Feeling Cenderung Emosional, Logika Lebih Terukur
Feeling mudah dipengaruhi oleh emosi. Pengendara yang terburu-buru atau sedang marah mungkin tidak sadar mengambil keputusan agresif di jalan. Ia memacu motor lebih cepat atau menyalip tanpa perhitungan karena terbawa suasana hati.
Sebaliknya, logika membantu pengendara tetap tenang dan objektif. Pengendara yang mengutamakan logika akan tetap mengikuti kecepatan aman meskipun sedang terburu-buru, dan tidak terpancing emosi oleh perilaku pengendara lain.
Dalam kondisi padat atau hujan, logika sangat dibutuhkan untuk mengontrol diri agar tidak gegabah.
3. Feeling Berguna dalam Situasi Mendadak, Logika Penting untuk Keputusan Besar
Feeling dapat membantu saat menghadapi situasi mendadak, misalnya menghindari lubang atau objek di jalan. Reaksi spontan dari pengalaman sebelumnya bisa membuat pengendara cepat mengarahkan motor ke sisi aman.
Namun logika penting bagi keputusan besar, seperti menentukan kapan menyalip, kapan harus mengurangi kecepatan, atau bagaimana menjaga jarak aman. Keputusan-keputusan ini membutuhkan pertimbangan matang yang tidak bisa hanya mengandalkan insting.
Perpaduan keduanya adalah kunci: reaksi cepat dari feeling, keputusan aman dari logika.
4. Feeling Bisa Menyesatkan Jika Kebiasaannya Salah
Banyak pengendara merasa “sudah biasa” menyalip dari kiri, tidak melihat spion, atau mengerem menggunakan rem belakang saja. Mereka melakukan itu berdasarkan feeling, tetapi kebiasaan tersebut justru salah dan berbahaya.
Feeling yang dibangun dari kebiasaan yang salah akan mengarahkan pengendara pada pola berkendara berisiko. Ketika situasi berubah, feeling tersebut tidak lagi relevan dan dapat memicu kecelakaan.
Logika mengajarkan pengendara teknik yang benar: menyalip dari kanan, melihat spion, menggunakan kombinasi rem depan-belakang, serta mematuhi aturan lalu lintas.
5. Logika Menjaga Konsistensi, Feeling Menambah Keluwesan
Logika membantu pengendara tetap berkendara secara konsisten sesuai aturan. Ini penting terutama dalam perjalanan jauh atau berkendara malam hari. Sementara feeling membuat pengendara lebih fleksibel dalam menyesuaikan diri terhadap kondisi jalan yang berubah-ubah.
Contohnya, pengendara motor modern seperti Honda Stylo 160 harga jutaan akan tetap bisa memaksimalkan performa motornya jika ia menggabungkan teknik berkendara yang logis dengan sensitivitas feeling di jalan.
Perbedaan utama antara feeling dan logika dalam mengendarai motor terletak pada dasar pengambilan keputusan. Feeling berangkat dari pengalaman dan intuisi, sedangkan logika berasal dari pemahaman teknik serta aturan.
Keduanya sebenarnya tidak bisa dipisahkan. Mengandalkan feeling saja bisa berbahaya, sementara mengandalkan logika tanpa keluwesan juga dapat mengurangi respons cepat terhadap situasi mendadak. Pengendara ideal adalah yang mampu menggabungkan keduanya secara seimbang, apapun motor yang digunakan, termasuk motor stylish seperti Honda Stylo 160 harga jutaan.
Dengan perpaduan feeling dan logika yang tepat, pengalaman berkendara akan menjadi lebih aman, nyaman, dan menyenangkan.
